Let go, let them
"Lepaskan"
Sebuah kata yang akhir-akhir ini cukup sering aku lihat dan aku dengar baik itu melalui social media yang aku buka ataupun buku yang aku baca. Orang bilang, perilaku let them atau let go itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang western di mana mereka adalah pribadi yang individualis dibandingkan dengan kita yang memang hidup di Indonesia. Aku sedikit setuju karena pada dasarnya sejak dulu, kita ditanamkan sebuah ideologi bahwa manusia adalah mahluk sosial--tidak dapat hidup sendiri. Tapi hal ini terkadang menjadi bumerang untuk diri sendiri karena pasalnya walaupun manusia tidak dapat hidup sendiri, banyak permasalahan hidup yang hanya dapat diselesaikan sendiri tanpa bantuan orang lain.
Kata-kata itu bergema cukup nyaring di telingaku akhir-akhir ini. Bukan karena aku sedang mengalami sebuah masalah besar dan aku harus mengatasi semuanya sendiri... bukan. Aku hanya sadar bahwa bagaimanapun oranglain berpikir tentang aku, menanggapi apa yang aku rasakan, ataupun melakukan pun tidak melakukan apa yang kumau, aku hanya perlu membiarkan mereka dan pemikirannya. Selama ini aku pikir aku sudah cukup bodo amat dengan sekitarku tetapi ternyata tidak jarang aku menemukan diriku sendiri kembali bersedih karena seseorang. Itu semua karena aku tidak membiarkan mereka melakukan apapun yang ingin mereka lakukan sendiri. Respon mereka seharusnya bukan tanggungjawabku lagi. Tapi memang dasarnya manusia ya, kadang hal kecil seperti tatapan yang tidak seperti biasanya ataupun ajakan bertemu yang dilakukan last minute membuatku merasa terabaikan atau bahkan ditinggalkan. Padahal kenyataannya tidak pernah sedeep itu. Siapa yang akan memikirkan orang lain sedalam itu selain diri mereka sendiri? Untuk memahami bahwasannya semua hal itu tidak harus aku proses di dalam otak dan hatiku sepertinya membutuhkan waktu yang cukup lama. Aku tidak pernah bisa lupa bagaimana aku selalu ingin memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Aku juga tidak pernah bisa lupa ketakutanku akan ditinggal sendirian. Hal itu ternyata berakar dari pengalaman masa kecil yang seharusnya sudah aku relakan.
Let Go..
Seharusnya aku sudah bisa membiarkan anak kecil di dalam diriku itu merasa bahagia. Sesimpel bahagia karena bisa membaca majalah bobo kesayangan saat mengantar adik terapi bibir sumbing. Sesimpel bahagia karena bisa bermain sepeda dengan teman-teman dan berboncengan sampai jatuh menabrak gerbang rumah orang lain. Sesimpel bahagia saat mencoba mengambil jambu dari lahan tetangga yang berakhir dikejar-kejar orang gila. Sesimpel bahagia saat wali kelas ketika SD memberikanku pujian karena aku pintar. Sesimpel bahagia karena bisa bersama dengan bapak untuk menonton Lilo & Stitch untuk pertama kalinya di bioskop dan banyak kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang sudah aku alami ketika kecil yang membuatku merasa aku cukup beruntung. Anak kecil yang sudah terlalu menahan perasaan kecewa dan sedih ini sudah saat untuk merasa bahagia dan puas akan apa yang sudah didapatkan.
Banyak cara untuk kita sebagai manusia merasa puas dan bersyukur. Misalnya, mengucapkan rasa syukur atas cuaca yang baik ketika hendak berangkat kerja, atau makanan kantin yang enak yang bisa dinikmati ketika makan siang, pun pulang tepat waktu ketika bekerja. Banyak sekali hal yang dapat disyukuri. Untuk itu, belajar menjadi Let Go itu adalah hal yang harus bisa kita lakukan untuk hidup yang lebih bahagia.
Banyak cara untuk kita sebagai manusia merasa puas dan bersyukur. Misalnya, mengucapkan rasa syukur atas cuaca yang baik ketika hendak berangkat kerja, atau makanan kantin yang enak yang bisa dinikmati ketika makan siang, pun pulang tepat waktu ketika bekerja. Banyak sekali hal yang dapat disyukuri. Untuk itu, belajar menjadi Let Go itu adalah hal yang harus bisa kita lakukan untuk hidup yang lebih bahagia.
Akhir-akhir ini, aku sempat merasa terburu-buru. Aku merasa bahwa waktuku tidak lama lagi untuk menikmati semua hal yang kudapatkan saat ini sehingga apapun yang belum aku rasakan dan dapatkan saat ini membuatku gusar. Aku merasa bahwa Tuhan bisa saja mengubah masa depan yang sudah kudoakan dengan sekejap mata--misalnya ketika aku tidak shalat. Aku ingin sekali berusaha disiplin dalam beribadah sehingga aku tidak malu pada Tuhan ketika mendoakan hal yang paling aku inginkan terjadi di masa depan. Tapi entah mengapa sulit sekali untuk menjadi disiplin. Sepertinya hatiku yang terlalu beku untuk menikmati berkat Tuhan yang melimpah jika kita beribadah dengan baik. Seseorang yang paling dekat denganku berkata bahwa kita boleh menikmati waktu kita, apapun yang Tuhan berikan untuk kita hari ini dan percaya apapun yang akan kita dapatkan di masa depan adalah hal-hal yang sudah Tuhan kehendaki. Aku kesulitan untuk percaya bahwa aku akan mendapatkannya. Hal itu membuatku kesulitan untuk merasa Let Go. Aku takut bahwa apapun yang kudoakan dan aku harapkan hanya akan menjadi doa saja dan menggantung di langit. Pertarungan doa yang aku lakukan dan ibuku lakukan di langit hanya akan menjadi sekedar doa. Ternyata, dengan sikap yang seperti itu, aku sudah melukai hati Tuhan. Aku tidak mempercayai keputusan dan tangan Tuhan yang bekerja untuk mendatangkan kebaikan untukku. Aku malu, Tuhan...
Semoga setelah ini, aku dapat lebih bersyukur lagi. Aku dapat lebih mempercayai setiap takdir yang Tuhan takdirkan untukku dan menjalaninya dengan ikhlas. Aku percaya, Tuhan akan mendatangkan kebaikan kepada hambanya yang berharap akan kebaikannya. Aku hanya harus percaya.